Ramadan 1445 H, Maret-April 2024
Anak, Insyaallah, bisa nulungan ke orang tua, kalau benar menjaganya, mendidiknya.
Sekarang atau nanti di akhirat, insyaallah, anak kecil, walau masih kecil bisa menolong / bisa jadi jalur syafaat bagi orang tuanya, Kalau Benar menjaga dan mendidik anak tersebut. Kalau salah atau tidak menjaga, tidak mendidik, bisa jadi musibah.
Jika ingin selamat, orang tua perlu berkorban, perhatikan prioritas.
- Ibadah kepada Allah
- Berbakti kepada orang tua
- Menjaga dan Mendidik anak
- yang terakhir, mewujudkan keinginan nafsu sendiri.
Kata Menjaga, fokus ke luar. Menjaga dari ancaman. Fisik maupun Non-Fisik.
Kata Mendidik, fokus ke dalam diri anak. Potensi yang baik dipupuk, potensi yang buruk dilunakkan.
Menjaga dari ancaman fisik, misalnya polusi udara.
Menjaga dari ancaman non-fisik, misalnya ideologi yang salah, kebiasaan buruk dari sumber informasi langsung (gadget) maupun tidak langsung misalkan dari orang lain atau teman sebayanya.
Menjaga dari ancaman fisik dan nonfisik dari predator, yang dapat saja merupakan anak tetangga, tetangga, teman sekolah, guru di sekolah, teman bertemu di tempat bermain, atau orang tak dikenal.
Berdoa dan mendoakan anak. Membaca, menghayati dan membacakan Ayat Kursi. Karena yang dapat 100% selalu menjaga hanya Allah SWT, yang Maha Hidup, Maha Mengurus, Al-Hayyu, Al-Qoyyuum.
Potensi baik seperti Rasa Kasih Sayang mesti dipupuk.
Potensi buruk seperti buka aurat di hadapan orang lain mesti dicegah. Walaupun di hadapan teman sebayanya, walaupun sama-sama anak laki-laki, atau walaupun sama-sama anak perempuan.
Ketika memandikan, lakukan di ruang tertutup, cukup satu anak yang dimandikan saja yang telanjang, orang tua jangan ikut telanjang, orang tua jangan ikut mandi. Apalagi ada anak lain di ruangan tersebut, sepatutnya dihindari.
Orang yang memandikan sepatutnya hanya ibunya saja. Jangan orang lain. Jangan pembantu. Apalagi tetangga, jangan.
Potensi baik, rasa syukur, mengenal Tuhan, rasa sabar, mesti dipupuk. Orang tua dapat mengajarkannya melalui sering berbincang dengan anak, mengenai Tuhan, akhirat, sabar, dan syukur. Mudah-mudahan, insyaallah, dapat sekaligus mengikis potensi dengki, hasad, atau amarah yang berlebihan.
Jika orang tua tidak mengorbankan nafsu dan waktunya untuk menjaga dan mendidik anak sejak kecil, kemudian anak dibiarkan, nafsu jahatnya dibiarkan merajalela, jangan salahkan anak kalau setelah dewasa, bukan berbakti, tapi menghardik orang tua.
Manusia diciptakan oleh Allah SWT, untuk beribadah. Apakah mendidik anak dapat menjadi ibadah?
Segala aktifitas keseharian dapat menjadi ibadah, asalkan dipenuhi syarat-syaratnya.
5 syarat ibadah (menurut Ust. H. Asyaari Muhammad):
1. Niat. Niat mesti karena Allah. Agar lebih banyak orang yang meninggikan kalimat Allah. Agar diri sendiri lebih dekat lebih banyak ingat dengan Allah. Jangan berniat untuk mendapatkan pujian orang lain.
2. Aktifitas yang Halal. Aktifitas yang dilakukan memang dibenarkan, halal, diperlukan. Menjaga dan mendidik anak memang hal yang disuruh. Berbelanja barang bermerek setiap awal bulan, memanjakan diri sendiri, perawatan kulit dan kuku, setiap awal bulan, sepertinya bukan aktifitas prioritas.
3. Cara Melakukan mesti Halal. Walaupun apa yang dilakukan sudah betul, tapi jika caranya salah, maka hanya akan mendatangkan musibah atau sia-sia. Misalnya rapat sampai melanggar waktu shalat.
4. Hasilnya dari aktifitas mesti dimanfaatkan untuk yang halal. Dalam hal berdagang, keuntungan mesti dikeluarkan zakatnya. Sisanya mesti dibelanjakan dengan cermat dan untuk yang penting. Guru yang mendidik murid, jangan bertujuan agar mendapatkan pujian dari orang tua murid.
5. Tidak meninggalkan yang Fardhu. Berdagang, bertani, mesti dilakukan. Tapi jangan sampai meninggalkan shalat. Jangan sampai karena terlalu sibuk, tidak sempat menambah atau menyegarkan ilmu.
Ingat, pernah disampaikan di materi Kuliah ke-1.
Ingat, menjaga dan mendidik anak perlu berkorban.
Arisan, belanja, tabungan gadget, waktu bersosialisasi teman reuni, mungkin perlu juga dikorbankan.
Pada anak sudah ada hati, perasaan, yang sudah aktif, dan sudah mulai merekam. Sudah fitrah, bisa tersenyum, bisa menangis. Tidak ada yang mengajari. Fitrah dari Allah SWT. Perasaan seorang dewasa tidak jauh dari saat dia masih kanak-kanak. Hal ini menunjukkan bahwa hati sudah dekat matang. Orang tua mesti memperhatikan hal ini, karena rekaman hati anak akan menentukan bagaimana nanti dewasa. Orang tua mesti menyayangi anak dan mengajarkan kasih sayang. Anak bisa saja survive sendiri, atau diasuh pembantu, tapi telaga kasih sayang dihatinya, saat dewasa mungkin sudah kering, akibat lubang yang digerogoti sakit hati terhadap orang tua yang masih hidup yang tidak menyayangi. Kemungkinan saat dewasa, hatinya sudah kering, dingin, diktator, kejam, tidak dapat mencurahkan kasih sayang kepada orang lain.
Pada anak sudah ada nafsu, nafsu diperlukan karena berkaitan dengan survival. Nafsu makan. Nafsu menyambung keturunan. Nafsu jahat juga sudah ada, dan masing-masing anak mungkin berbeda tingkatannya. Ada yang bakat pemarah, ada yang bakat pemaaf.
Nafsu yang perlu dipupuk seperti: Pemaaf, Lapang Dada, Berani, Berkasih Sayang, Toleransi / Tolak Ansur, Sabar, Syukur, Memuji Tuhan, Memuji orang lain, berterimakasih, Merendah diri kepada orang tua, Menghormati senior, Menyayangi junior.
Nafsu yang perlu dikikis seperti: Marah, Mengumpat, Mengumpat Orang, Mengumpat Nasib, Mengutamakan keduniawian, Beribadah untuk Mendapatkan keduniawian, Sombong, Ujub, Hasad-Dengki, Tidak Berkasih Sayang, Tidak memberikan rahmat/rahman/rahiim kepada orang lain, tidak merasa iba melihat orang lain susah, tidak menolong ketika mampu ketika sempat, Riya-Sum’ah, tidak ikhlas untuk Allah.
Orang tua perlu mengenalkan keberadaan nafsu-nafsu tersebut sejak kecil. Nafsu mana yang baik, nafsu mana yang buruk.
Pada anak sudah ada akal, tapi akal merupakan yang paling belum berkembang dibandingkan hati dan nafsu. Akal penting karena nanti, akal yang akan jadi guru bagi nafsu. Akal perlu berwibawa dengan ilmu. Ilmu tentang nafsu termasuk ilmu wajib bagi akal. Akal adalah saluran utama transfer ilmu untuk orang kebanyakan. Karena hanya Nabi dan Rasul saja yang ada ilmu yang langsung turun ke hati tidak diproses oleh akal terlebih dahulu. Peran orang tua adalah memperhatikan “makanan akal” . Makanan akal adalah ilmu, informasi. Orang tua utamanya memberikan ilmu yang cukup dan benar.
Informasi dari peristiwa sehari-hari, pengalaman bersama teman sebaya, informasi dari internet, akan diserap akal. Orang tua perlu menyaring informasi yang masuk ke akal anak yang filternya belum berkembang.
Anak, Insyaallah, bisa nulungan ke orang tua, kalau benar menjaganya, mendidiknya.
nyaman dgn orang lain
Anak, Insyaallah, bisa nulungan ke orang tua, kalau benar menjaganya, mendidiknya.
Anak, Insyaallah, bisa nulungan ke orang tua, kalau benar menjaganya, mendidiknya.
Anak, Insyaallah, bisa nulungan ke orang tua, kalau benar menjaganya, mendidiknya.
Anak, Insyaallah, bisa nulungan ke orang tua, kalau benar menjaganya, mendidiknya.
Target, Milik Allah
Kalau orang punya uang 100rb, punya sendiri, sakuin sendiri, ga mau bagi ke orang
lain, itu bakhil. Tapi yang dimaksud ayat ini bukan bakhil. Yang dimaksud ayat ini, lebih parah.
Uang orang lain, dia tidak mau orang lain mengeluarkan uang orang lain tersebut untuk orang miskin.
--Editor: Mungkin, yang terpikir, mirip iklan asuransi atau iklan bank. "Ayo tingkatkan saldo tabungan Anda!". Jangan dikeluarkan
utk orang miskin.
4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
5.(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
"Dari" shalat, bukan dalam shalat.
Dalam shalat, misal lupa rakaat, bukan ini.
"Dari" shalat, adalah selesai shalat, di luar shalat.
Apabila lalai kalau dia merendah menyembah Allah,
kepala di bawah, jadilah sombong.
Lalai dari bersalam pada dunia. Salam paling dekat kepada
yang disebelah, shalat berjamaah. Lalai tidak merasa
suka salam, jadilah bermusuhan.
6.orang-orang yang berbuat riya.
Riya = syirik kecil. Beribadah karena ada mau selain ridho Allah.
Nanti disuruh minta pahala pada sekutu/berhalanya.
7.dan enggan (menolong dengan) barang berguna.
Al-Ma'uun = barang keperluan sehari hari, bukan barang branded.
Misalnya ember, minyak kelapa, perabot masak. Orang yang mendustakan
agama menghalangi, tidak mau orang miskin mendapatkan barang
tersebut.
Bahaya Riba
1.Pilihan mendapatkan modal:
A.Jual Mobil
B.Gadaikan, Riba
Jual Beli, Halal. Riba, Haram, akan musnah, tidak berkah.
2.Akibat Riba:
1.Habis Waktu utk revisi,
2.tender tidak jadi,
3.ditipu
4.mubazir
5.belanja keluar, tapi yang diinginkan tidak dapat
3.Kalau tidak Mustaqim kepada Allah, jangan harap orang lain Mustaqim pada kita.
4.Banyak beli barang yg ternyata mubazir
5.Kadang beli sesuatu utk menyenangkan orang, tapi orang yg mau disenangkan malah ngambek
=ide===========================================================
8001
akuntansi -> mengetahui berapa margin / yg bisa diambil / brp bisa nyicil mobil baru
8002
net
=catatan pribadi===============================================
101
Jumatan,NBW,10Mei2024, sabarlah sampai ketemu di telaga nanti.
banyak sahabat, bertanya masalah masing2,
jawabnya, bersabarlah.
di dunia hanya sebentar
klo umur 1 thn, lagi, sabar sabar lah
klo 1 hari lagi, tinggal dikit, sehari lagi.
Yang mendatangkan masalah, bukan orang lain, tapi Allah,
merujuknya, kembali kepada Allah.
Orang yang dicintai Allah, banyak dikasih ujian. Bersabar.
dikasih Ujian, Alhamdulillaah.
102
Alif Lam Lahu, segala milik-Nya. Pemilik segalanya.
103
Huruf Arab -> nomor, bikin kamus, searchable,
104
Pentingnya pendidikan dalam keluarga. Di sekolah hanya waktu tertentu, hanya men-sertifikat-kan.
Ilmu, terutama yang fardhu, mesti diulang, di keluarga.
105, sabtu, 11 Mei 2024, menghadiri ondangan Pa Asep, Sumedang
ketika ngantri, lihat tulisan, di tembok:
tapi hanya sekilas. trus browsing, dapat:
"Ketahuilah, seorang murid tidak akan memperoleh ilmu dan tidak akan
dapat ilmu yang bermanfaat, kecuali ia mau mengagungkan ilmu,
ahli ilmu, dan menghormati keagungan guru" (Az-Zarnuji)
Latar Belakang.
1.Jumat sebelumnya,sore/malam, terlupa tafsiran Al Fatihah ayat 1&2
2.Kamis sebelumnya, ada undangan halal bihalal.
Antara Kamis sd sabtu, bertanya tanya, apakah yang dilakukan selama ini benar?
Apa ada hubungan dengan terlupanya hal itu?
106, Tambahan Tafsir Al-Fatihah, sabtu, 11 Mei 2024
Shalat adalah Mi'raj seorang hamba.
sebelum shalat mestinya takut, gempar, bingun, menghadap Rabb yang dapat melakukan apa pun.
Permulaan,
Hati berterimakasih, hati ditenangkan, karena Allah Menetapkan atas Zat-Nya, Rahmat.
Allah Maha Pemurah, kepada semua umat.
Allah Maha Penyayang kepada yang beriman.
Pemurah dan Penyayang mengatasi sifat-sifat menggemparkan lain.
Segala Puji bagi Allah,
Rabb, yang mengatur kejadian-kejadian,
termasuk dari lahir sampai detik-detik barusan.
Mengamankan, Menyelamatkan, Menyampaikan pada tempat shalat,
Dapat kesempatan shalat
Rabb yang menentukan makan atau tidak, makan nasi atau roti, berapa banyak.
Rabb seluruh alam. Dulu, sekarang, masa depan.
Alam dunia alam akhirat.
Alam manusia, jin, malaikat, ruh.
Alam manusia, hewan, tumbuhan, gunung, angin, bawah laut, dan seluruh alam.
...
..
.
Ketika selesai, duduk, turun lagi ke dunia. Membawa keselamatan.
Oleh karena itu diakhiri shalat, mengucap salam pada dunia.
Saya bawa keselamatan, rahmat Allah dan Berkah
dari Allah untuk kamu wahai dunia.
------------------------------------------------
Shalat, bagaimana kalau tidak sampai pada
waktu shalat yang berikutnya?
Al-Fatihah
Menghadap
1,2, dunia
Menenangkan, Sifat Allah, Maha Rahman, Maha Rahiim
Mengawali dengan Rahman dan Rahiim,
Akhir dengan Berterimakasih, akhirnya sampai,
.. pada pertemuan ??..
di Padang Mahsyar,
Menghadap, Meminta,
Wahai Maha Pemurah
Wahai Maha Penyayang
time travel, back and forth
--------------------------------------------------------
part1
1,2,dunia
part2
menghadap di padang Mahsyar
time travel back fort